Senin, 12 Januari 2015

Evaluasi Performa Kreativitas

“Sepatu Lama Bersemi Kembali (SLBK)”






Oleh kelompok 2:

Mata kuliah kreativitas merupakan salah satu mata kuliah pilihan di fakultas Psikologi USU. Mata kuliah ini hanya di ampuh oleh seorang dosen fakultas Psikologi yakni ibu Fillia Dina Anggareini. Mata kuliah ini berbeda dari  mata kuliah yang. Di sini metode pembelajaran yang digunakan lebih  unik dari biasanya. Sama halnya dengan nama mata kuliah ini, metode yang digunakan dirancang menarik sedemikian mungkin agar esensi dari kreatifitas timbul didalamnya. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini, juga dituntut untuk dapat menggali potensi yang ada di setiap masing individu untuk menampilkan hasil yang terbaik sebagai wujud dari kreatifitas tersebut. Bukan hanya menampilkan saja, namun mahasiswa yang terlibat di dalam perkuliahan ini diharapkan mampu mengembangkan setiap potensi, bakat yang sudah didalam dirinya.
Adapun salah satu tugas yang harus dipenuhi dalam mata kuliah ini adalah performa kreatifitas yang akan di tampilkan secara berkelompok. Maksud dari performa kreatifitas ini adalah setiap kelompok wajib membuat satu ide kreatifitas yang original yang akan ditampilkan di depan kelas. Namun sebelum ditampilkan, setiap kelompok wajib membuat atau merancang suatu konsep performa kreatifitas mereka yang dipost di blog masing-masing.. Dan setelah perform di depan kelas, setiap kelompok wajib mengevaluasi performa mereka. Evaluasi inilah yang akan kami bahas pada postingan blog ini. Terimakasih atas semua masukkan yang kami terima dan selamat membaca postingan ini.
A.    Teori yang Berkaitan dengan Performa Kreatifitas
Teori tentang proses kreatif dikaitkan dengan performa yang akan ditampilkan kelompok
Teori Wallas
1.      Persiapan yaitu pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya. Pertama, kami memikirkan apa yang akan kami tunjukkan (perform). Kami mencari ide di internet, melihat gambar-gambar hasil kreativitas orang lain, dan juga menanyakan pada senior tentang performa yang mereka tampilkan tahun lalu.
2.      Inkubasi yaitu tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar tetapi “mengeraminya” dalam alam pra sadar. Tahap ini penting dalam menimbulkan inspirasi. Kami sepakat untuk memikirkan ide masing-masing tanpa mengadakan diskusi kelompok selama beberapa waktu.
3.      Iluminasi yaitu tahap timbulnya "insight" atau "Aha-erlebnis", saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru. Kemudian muncul ide dari beberapa anggota kelompok. Muncul ide membuat video menceritakan gifted children dengan stop motion, ide membuat sesuatu dari kulit telur, melukis dengan tutup botol air mineral, dan ada juga ide recycle barang bekas.Aha! Akhirnya kami memutuskan membuat sepatu bekas menjadi kembali berguna & chic!. karena, dari ide-ide yang kami muncul  sebelumnya ide ini yang paling mudah untuk kami kerjakan dan sederhana.
4.      Verifikasi yaitu tahap dimana ini ide atau kreasi baru diuji terhadap realitas. Untuk membuatnya menjadi cantik kembali dibutuhkan hal-hal yang benar-benar menutupi permukaan sepatu karena keadaan permukaan sepatu sudah tidak bagus dan tidak menarik.
Teori Pemecahan Masalah Menurut Shallcross
Teknik pemecahan masalah secara kreatif yang dikemukakan oleh Shallcross (1985) meliputi lima tahap, yaitu:
1.      Orientasi. Pada tahap ini, masalah dirumuskan atau mulai menentukan tujuan. Masalah dirumuskan dengan bagaimana kami harus menyelesaikan tugas performa yang diberikan dan menetukan apa yang harus kami buat.
2.      Persiapan. Pada tahap persiapan, kami menghimpun semua fakta yang sudah diketahui mengenai masalah dan mulai mengumpulkan data. Untuk menyelesaikan tugas performa kami bertanya kepada senior yang sudah pernah menagmbil mata kuliah kreativitas dan mencari berbagai kreativitas di internet.
3.      Penggagasan. Pada tahap penggagasan, kami mulai menerapkan cara berpikir divergen untuk menghasilkan gagasan sementara pemecahan masalah. Pada tahap ini, kami mulai mememikirkan konsep apa yang akan kami tampil dalam performa. Ada beberapa ide yaitumembuat video menceritakan gifted children dengan stop motion, ide membuat sesuatu dari kulit telur, melukis dengan tutup botol air mineral, recycle barang bekas, dan membuat sepatu bekas menjadi kembali berguna
4.      Penilaian. Pada tahap penilaian, kami menerapkan cara berpikir konvergen, yaitu menyeleksigagasan yang paling baik untuk dilaksanakan, dengan mempertimbangkan kelayakan dari setiap gagasan, yaitu dengan membuat matriks.
Matriks gagasan dan kriteria penilaian gagasan
Ketentuan penilaian:
5 = baik sekali             3 = cukup baik                                    1 = sangat kurang
4 = baik                       2 = kurang baik
IDE
ORIGINALITAS
WAKTU PEMBUATAN x 3
BIAYA
KEMAMPUAN
TOTAL SKOR
Video Stop Motio
3
2
5
1
15
Sesuatu dari kulit telur
3
3
3
2
17
Melukis dengan tutup botol air mineral
3
2
2
2
13
recycle barang bekas
2
1
4
2
11
Sepatu bekas menjadi berguna kembali
4
3
5
4
22

            Dari tabel tersebut, yang paling tinggi adalah sepatu bekas menjadi berguna kembali.
Pelaksanaan atau implementasiTahap pelaksanaan atau implementas merupakan tahap terakhir dalam proses pemecahan masalah secara kreatiftahap dimana kami membuat sepatu bekas menjadi berguna kembali.
A.    Konsep Performa Kreatifitas
Awalnya kami belum mendapatkan ide yang cocok untuk kami jadikan  ke dalam tugas performa kreatifitas kami. kemudian kami berinisiatif untuk searching ke internet, melihat karya-karya kreatifitas orang lain yang mungkin akan dapat menjadi inspirasi kami dalam menyusun sebuah ide atau konsep untuk kreatifitas performa kreatifitas kami. Bukan  hanya itu saja, kami pun juga menanyakan ke beberapa senior yang sudah pernah mengambil kelas kreatifitas ini. Kemudian dari semua yang telah kami lakukan, maka muncullah beberapa ide yang menurut kami layak untuk diperformkan didepan kelas. Namun kami menyadari, bahwa semua ide yang muncul tersebut tidak mungkin kami masukkan semua ke dalam performa kreatifitas. Maka, setelah kami berdiskusi, kami pun memutuskan membuat sebuah hiasan sepatu bekas yang sudah tidak layak untuk dipakai lagi agar bisa digunakan kembali sehari-hari.
Sepatu bekas ini kami beri nama  “SLBK (Sepatu Lama Bersemi Kembali)”. Alasan kami mengambil tema ini adalah mengingat sepatu bekas yang sudah tidak dipakai lagi yang banyak bertumpuk di rumah. Selain itu, alasan kami yang lain adalah karena kami merasa hal ini cukup mudah sehingga semua anggota kelompok mampu membuatnya.
B.     Alat dan Bahan
Bahan:
ü  Sepatu bekas
ü   Lem
ü   Kain gosok
ü  Ayaman tikar
ü  Kain goni
ü  Bunga kepompong (sebagai hiasan)
Alat :
ü  Gunting
ü   Pena (spidol)
ü   Camera
ü   Movie Maker
C.    Langkah-langkah pembuatan
1.      Sediakan alat dan bahan
2.      Bersihkan sepatu
3.      Lem bagian sepatu yang terbuka
4.      Tempelkan kain gosok dengan kain tikar
5.      Gambar dan gunting pola untuk sisi depan sepatu
6.      Beri lem pada sisi depan sepatu.
7.      Tempelkan pola yang sudah digunting pada sepatu
8.      Rapihkan bagian yang sudah ditempel
9.      Gambar pola pada kain untuk sisi kanan dan kiri sepatu
10.  Gunting, kemudian lapiskan kain gosok pada sisi sepatu
11.  Gambar dan gunting pola untuk hiasan di sisi sepatu
12.  Tempelkan pola tersebut pada sisi sepatu
13.  Tambahkan bunga kepompong di bagian depan. Finish J J
E.     Kendala yang Dihadapi
1.      Waktu Pembuatan
Kami menentukan waktu pembuatannya dikampus dan berkumpul pada jam 10.00 WIB. Ketika semua anggota kelompok sudah berkumpul kami mulai mendiskusikan model seperti apa yang akan kami buat pada sepatu dan bahan-bahan apa saja yang akan digunakan. Kami tidak memiliki ide lagi untuk model sepatunya karena kami sudah pernah menampilkan performa menghias sepatu bekas, banyak kekurangan dan pada saat itu adalah penampilan performa pertama sehingga kami diperbolehkan lagi untuk mengulamg performa kami. Pada hari pertama pembuatan kami masih bingung dengan model yang akan digunakan dan kami berfikir tidak mungkin kami menampilkan video dengan model sepatu yang samadan akhirnya kami memutuskan  untuk pulang dan berkumpul lagi besoknya dengan masing-masing anggota kelompok sudah memiliki ide model yang akan di buat. Setelah modelnya sudah ditentukan, salah seorang anggota kelompok membeli bahan yang akan digunakan dan beberapa bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang gak di pake ada di rumah yaitu kain gosok. Kami mengerjakannya sekitar 4 hari dalam waktu dua minggu mulai dari menghias sepatu sampai proses editing video. Dalam sehari kami mengerjakannya sekitar 4 jam.
2.      Proses Pembuatan
Dalam proses pembuatan kendala yang kami hadapi adalah saat menempel pola-pola yang kami buat pada sepatu. Kami membutuhkan kesabaran untuk menuggu lemnya kering baru bisa melanjutkan hiasan selanjutnya paad sepatu. Pada saat mengggunting anyaman tikar juga membutuhkan kesabaran karena anyamannya mudah rusak sehingga mengurangi kerapiannya.
3.      Performa
Performa pertama kami banyak mengalami kendala karena yang semua kelompok berasumsi bahwa yang tampil pertama adalah kelompok satu dan dua. Ketika kelas sudah mulai ternyata listrik dalam ruangan tidak hidup dan kami memang membutuhkan listrik untuk menampilkan video. Tetapi karena kelompok satu tidak memiliki persiapan dan beberapa anggota kelompok belum datang dan akhirnya kami yang duluan tampil setelah listrik diruangan hidup. Melihat hasil performa kami yang kurang memuaskan dan banyak kekurangan dan hari itu hari pertama penampilan jadi kami diperbolehkan mengulangi performa kami kembali. Performa kedua kami tidak banyak mengalami kendala hanya proyektor yang ada dalam ruangan saja sedikit bermasalah.
F.     Kritik dan saran
1.      Etika Manda Sari
Menurut kak  Manda apa pertimbangan kelompok kenapa sepatu dimodifikasi kembali bukannya biayanya semakin mahal? Dan berfikir bahwa sepatu itu dimodifiaksi dalam fungsi lain bukan sebagai sepatu lagi.
2.      Ilmi Khoir Purba
Menurut Ilmi sepatu sudah bagus tetapi kerapain dari pola-pola yang digunakan pada sepatu sangat kurang.
3.      Ibu Filia Dina Anggaraeni
Pada saat performa pertama menurut ibu Dina apa yang kami tampilakan dalam performa tidak sesuai dengan apa yang ada dalam blog. Dalam blog kami tidak membuat performa kami sebenarnya seperti apa dan alasan kami kenapa akhirnya membuat sepatu bekas dapat digunakan lagi sehingga orang-orang yang membaca blog kami tidak akan tahu apa sebenarnya yang akan kami tampilkan. Dalam blog kami juga tidak menampilkan cara-cara menghias sepatu bekas  itu.
G.       Pembagian Tugas
Praproduksi:
-           Pembuatan Konsep = Seluruh Anggota kelompok 2
-          Pembelian Bahan    = Utary MonadevyNurul Nia Aqsari
-          Penyediaan Alat     = Utary Monadevy, Nurul Nia Aqsari, Delilah Wahyuni
Produksi:
-          Pembuatan Produk  = Seluruh anggota kelompok 2
-          Dokumentasi          = Seluruh anggota kelompok 2
-          Presentasi Teori      = Delila wahyuni, Jerni Hati, Nurul Nia Aqsari
-          Presentasi Proses Pembuatan = Utary Monadevy
Pasca Produksi :
-          Pembuatan Laporan Evaluasi = Seluruh anggota kelompok 2
Movie by: seluruh anggota kelompok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar