Minggu, 23 Maret 2014

Teori Ekologi Bronfenbrenner


 
“perkembangan terjadi melalui meningkatnya proses interaksi antara individu yang berkembang dengan proses lingkungan yang bersifat segera dan setiap hari, yang dipengaruhi oleh konteks tidak relevan yang bahkan tidak disadari oleh manusia”
Urie Bronfenbrenner – Psikolog Amerika

Setiap manusia hidup dan berkembang di dalam konteks sosial. Begitu juga dengan saya yang hidup didasari oleh konteks budaya, bangsa, agama, dan hukum. Sebagaimana yang telah dinyatakan Bronfenner bahwa manusia hidup di dalam lingkungan yang saling mempengaruhi. Terdapat lima sistem lingkungan yang saling berkaitan atau saling mempengaruhi.

Setiap harinya saya dengan mama, saya dengan bapak, saya dengan adik, saya dengan teman kampus, dan setiap minggu saya dengan teman gereja selalu berinteraksi, baik itu dengan interaksi langsung maupun interaksi melalui media elektronik berupa blackberry messanger dan twitter. Ini merupakan sistem lingkungan yang pertama yang dinamai oleh Bronfenbenner dengan mikrosistem. Sistem ini terjadi secara langsung dan selalu terjadi setiap hari tanpa saya harus memikirkan konsep atau skema bagaimana ini harus terjadi dan dilakukan. 

Aktif pelayanan di gereja, aktif perkuliahan membuat saya harus memilih salah satu dari dua kegiatan ini dengan cara mengurangi intensitas salah satu kegiatan karena masing-masing kegiatan ini membutuhkan perhatian penuh. Sebagai mahasiswa, saya harus belajar setiap hari diluar jam kuliah sementara sebagai anggota pelayan gereja, saya harus berlatih setiap hari dirumah dan latihan rutin bersama pada hari Jumat dan Sabtu dimalam hari. Apabila ada event, maka saya harus mempersiapkan diri pada hari-hari diluar Jumat dan Sabtu. Ini merupakan sistem yang kedua yaitu mesosistem. Saya berkembang dengan berbagai kegiatan positif seperti kuliah dan pelayanan gereja. Tetapi pada semester dua dimana saya masih harus beradaptasi dengan ilmu psikologi yang sedang saya pelajari maka saya harus memprioritaskan kuliah tanpa harus meniadakan kegiatan positif lain seperti pelayanan gereja dan hanya mengurangi kegiatan tersebut.

Sistem yang ketiga, exosistem. Orang tua saya baru saja pindah tugas dari kota Palembang ke kota Medan dengan surat keputusan (SK) dari pemerintah. Secara tidak langsung, hal ini membuat saya cukup senang karena saya tidak harus tinggal sendiri tanpa orang tua di Medan seperti empat setengah tahun terakhir. Saya tidak melakukan apapun agar pemerintah mengutus orang tua saya untuk pindah tugas ke Medan. Hal ini berdampak besar dalam perkembangan saya yang seharusnya membutuhkan keluarga inti selama masa remaja. Begitu juga dalam pendidikan, saya membutuhkan orang tua untuk memotivasi  dalam belajar. Ini merupakan lingkupan exosistem.

Selanjutnya sistem yang keempat, makrosistem. Perkembangan di lingkungan makrosistem tidak dapat saya ceritakan dengan konteks budaya dari darah Batak yang menurun pada saya. Orang Batak dan kebanyakan orang Timur yang lebih mengistimewakan anak laki-laki daripada perempuan di dalam keluarga tidak ikut serta menurun dalam keluarga inti kami. Orang tua saya tidak memberlakukan budaya itu dalam keluarga sehingga saya mendapat pendidikan yang sama dengan saudara laki-laki. Saya juga mendapat fasilitas belajar bahkan kasih sayang orang tua yang sama dengan mereka. Tanggung jawab di rumah yang sama juga berlaku, seperti mencuci piring, membersihkan rumah, belajar, dan lainnya. Hal ini berdampak pada saya ketika berada di luar rumah, seperti di kampus saya tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Bagi saya, siapapun dapat menjadi leader dalam kelompok, siapapun dapat menjadi komting, siapapun dapat mengambil absen dari lantai tiga ke lantai satu, dan siapapun dapat memperbaiki infokus dan microphone selama mereka mampu melakukannya dan bertanggung jawab.

Kronosistem adalah sistem kontekstual yang terakhir dan paling luas yang melibatkan dimensi waktu.  Di salah satu jejaring sosial saya berteman dan menjalin komunikasi dengan orang-orang seusia saya dari berbagai daerah. Ada teman yang bertempat tinggal di Medan, Siantar, Jakarta, Tarutung, Jayapura, Wonosobo, Sipahutar, bahkan ada yang berasal dari Manhattan, Hongkong, Amerika, dan Mesir. Ini berarti akses internet jaman sekarang sudah dapat dijangkau masyarakat di berbagai daerah. Fasilitas untuk melakukan interaksi di jejaring sosial juga sudah pasti mereka miliki sendiri atau setidaknya mereka sewa atau pinjam. Era milenium dan sebelumnya sangat kontras, dimana pada jaman ini anak-anak, remaja, dan orang dewasa sudah dapat menikmati internet serta berbagai gadget canggih dan multifungsi, sebaliknya di era sebelumnya mobile-phone saja saya belum kenal dan saat baru muncul saya menganggap bahwa mobile-phone adalah barang tertier sementara hari ini saya mengaggap sebagai kebutuhan primer karena mobile-phone multifungsi tersebut membantu saya dalam pendidikan dan kegiatan sehari-hari lainnya.


Kelompok 2
 Teori Vigotsky:
Jane Kosasih (13-077)
Dinda Sundari (13-089)
Teori Bronfenbenner:
Dian Andini (13-
Utary Monadevy (13-095)
Baby Natalia (13-127)

Rabu, 12 Maret 2014

Psikologi Pendidikan dan Teknologi


Psikologi dibutuhkan dalam ranah pendidikan di Indonesia. Psikologi berperan untuk memperbaiki keadaan pendidikan: pengajaran dan pembelajaran. Untuk merancang model pembelajaran, motivasi siswa dan pengajar, bagaimana belajar secara efektif dengan murid dari berbagai latar belakang, dan membuat pendidikan ini menjadi transparan dan lebih dekat dengan masyarakat.
Teknologi berperan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa. Dengan teknologi, siswa akan lebih mudah memperoleh materi, siswa mendapat materi pelajaran tanpa harus datang ke sekolah dan menunggu guru atau pengajar memberikan materi. Siswa dapat memperoleh materi yang terlebih dahulu dipaparkan di berbagai macam jejaring sosial dengan internet. Teknologi ini juga dapat membantu komunikasi antara siswa, orang tua dan guru. Orang tua dapat memantau anak-anaknya di sekolah. Guru atau pengajar dapat melaporkan kondisi dan proses belajar siswa. Orang tua dapat memberikan informasi kepada guru tentang perkembangan siswa di rumah.
Teknologi juga berperan untuk memfasilitasi siswa dalam belajar yang disebut e-learning. Sekarang, proses belajar mengajar tidak dengan cara guru memberi ceramah kepada siswa sementara siswa mendengarkan guru sambil membuka buku. Pengajaran dapat dilakukan dengan menampilkan slide-slide melalui infokus, OHP, proyektor, bahkan sekarang ada papan tulis yang dapat beroperasi seperti komputer touch screen.
Teknologi memberikan bermacam - macam dampak dalam ranah pendidikan ini. Dapat memberikan dampak positif, dan juga dapat memberikan dampak negatif. Dampak positif dari teknologi adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian, teknologi juga memberikan dampak negatif seperti disalah gunakan oleh siswa. Saat kita membuka internet dengan tujuan positif, kemungkinan ada hal – hal yang ditawarkan oleh situs atau iklan – iklan yang tak layak dilihat oleh anak-anak. Kemudian, ada juga yang menyalah gunakan internet dengan cara memaikan permainan – permainan, dengan waktu yang tidak terkontrol, misalnya ia tidak menyelesaikan tugasnya karena bermain di jejaring sosial lewat internet. Bahkan, mungkin saja siswa menipu orang tuanya bahwa ia meminta ijin ke warung internet untuk mengerjakan tugas sementara kenyataannya ia melakukan hal – hal lain. Penggunaan internet yang terlalu bebas juga seperti menonton film porno juga menyalah gunakan teknologi dalam pendidikan. Untuk hal seperti ini, dibutuhkan pengawasan oleh orang tua di rumah. Orang tua harus mendampingi anaknya selama ia di luar sekolah.
Diluar dampak positif dan negatif ini, kita juga harus melihat bahwa teknologi ini membawa kita kepada hal – hal yang baik. Mengurangi penggunaan kertas, mengurangi penggunaan spidol, mempermudah dan mempercepat proses yang ada di sekolah baik itu `proses belajar mengajar, absensi, administrasi, pemeriksaan hasil ujian, dan seluruh sistem yang ada di sekolah. Sekolah dapat beroperasi 24 jam tanpa harus membuka selama 24 jam. Pemeliharaan fasilitas teknologi yang telah ada ini tentunya haruslah digalakkan. Bukan hanya sekolah yang memeliharanya, siswa juga harus ikut berperan memelihara fasilitas ini. Dengan demikian tekonologi ini dapat terus berkembang bahkan tercipta teknologi-teknologi yang lebih baik dan efisien untuk dunia pendidikan.

Masalahnya, belum semua sekolah di seluruh daerah di Indonesia mendapatkan teknologi yang baik ini. Bahkan masih ada daerah yang belum terjangkau pendidikan atau sekolah. Disini, peran pemerintah sangat dibutuhkan. Pemerintah seharusnya mengirimkan anggotanya untuk memeratakan pendidikan di seluruh Indonesia. Pemerataan pendidikan dan fasilitas teknologi yang tidak merata dan timpang di beberapa daerah membuat siswa dan orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah dan institusi yang mempunyai teknologi yang lebih baik tersebut. Ini yang menyebabkan tidak meratanya pendidikan di tanah air. Disini seharusnya psikologi berperan aktif.