Sabtu, 21 Juni 2014

Anak Berkebutuhan Khusus


SLB A
Metode pembelajaran untuk anak buta total dan low vision
Anak buta total:
1.      Media berbasis manusia: guru instruktur dan kelompok
2.      Media cetak: buku Braille, bagan timbul, grafik timbul, denah, peta timbul, miniatur, dan benda tiruan
3.      Media audio: rekaman suara
4.      Media komputer: talking komputer, printer braille, display braille, perpus, braille
5.      Media benda asli dan lingkungan benda-benda sekitar, lingkungan sosial dan alam
Lowvision
1.      Manusia: guru instruktur tutor main-peran dan kegiatan kelompok
2.      Cetak: buku penuntun, latihan, alat bantu kerja dan lembaran lepas
3.      Visual: buku, alat bantu kerja, bagan, grafik, peta gbr
4.      Audio visual: video, film, slide-tape, tv
5.      Komputer: JAWS(screen reader atau pembaca layar)

SLB B
Fasilitas sekolah, ruang speech theraphy, ruang bina komunikasi, persepsi bunyi dan irama.
Tiga jenis utama ketungarunguan menurut lokasi gangguan :
1.      Conductive loss, gangguan pada luar telingah yang menghambat gelombang bunyi kedalam telinga.
2.      Sensory neural loss, kerusakan pada bagian dalam telingah yang mengakibatkan terhambatnya pengiriman pesan bunyi ke otak.
3.      Central auditory proccessing disorder, gangguan pada sistem saraf pusat auditer yang mengakibatkan individu kesulitan memahami apa yang di dengar.
Tingkat ketunarunguan :
1.      Ringan (mild), bunyi dengan intensitas 20 – 40 dB
2.      Sedang (moderate) bunyi intensitas 40-65 dB
3.      Berat(Severe heiring impirment), bunyi dengan intensitas 65-95 dB
4.      Berat sekali (Profound heiring impirment) bunyi dengan intensitas 95 dB atau lebih keras
Metode Pengajaran Anak Tunarungu
1.      Belajar bahasa melalui pembaca ujaran (speech reading)
2.      Belajar bahasa melalui pendengaran (alat bantu)
3.      Manual (bahasa isyarat)

SLB C
Ciri utama mental retardation adalah melemahnya fungsi intelektual. Anak juga sulit menyesuaikan diri dan berkembang, tidak bisa menguasai kemampuan sesuai umurnya dan tidak merawat dirinya sendiri
Ringan(55-70), moderat(40-54), berat(25-39), parah(<25)
Educable.. bisa dididik sampai kelas 5-6 lalu dimasukkan pada sekolah SLB C
Trainable..moderant, bisa dilatih merawat diri, pertahanan diri, cara makan
-          Pembelajaran harus intens karena mereka membutuhkan sistem pembelajaran yang kontinu dan konsisten disamping itu pembelajaran yang intensif juga sangat penting bagi mereka karena dapat mendukung dalam mendapatkan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan mereka.

SLB D
·         Sekolah dengan tangga tanpa anak tangga,yang memudahkan mobilitas siswa-siswi yang memakai kursi roda.
·         Ada pembelajaran pemulihan dan pengembangan fisik.
·         Menurut Frances P. Connor (1995) ada 7 aspek yang perlu dikembangkan pada diri masing-masing anak tunadaksa:

-          Pengembangan intelektual dan akademik
-          Membantu perkembangan fisik
-          Meningkatkan perkembangan emosi dna penerimaan diri anak
-          Mematangakan aspek sosial
-          Mematangkan moral spiritual
-          Meningkatkan ekspresi diri
-          Mempersiapkan masa depan anak

SLB E
·         Masalah emosi
·         Pembelajaran untuk melatih emosi : belajar untuk lebih tenang dan lebih sabar dalam melaksankan kegiatan.
·         Metode : Pemberian tugas yang melatih kesabaran seperti puzzle, lego, mewarnai dan lain-lain

·         Ada psikolog untuk memonitor emosi siswa




Tugas ini dikerjakan oleh Kelompok 2 mata kuliah Psikologi Pendidikan, Fakultas Psikologi USU

Ketua  :           Jane Kosasih (13-077)
Anggota:          Dian Andini (13-061)
                       Dinda Sundari (13-089)
                       Utary Monadevy (13-095)
                       Beby Natalia (13-127)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar