Rabu, 12 Maret 2014

Psikologi Pendidikan dan Teknologi


Psikologi dibutuhkan dalam ranah pendidikan di Indonesia. Psikologi berperan untuk memperbaiki keadaan pendidikan: pengajaran dan pembelajaran. Untuk merancang model pembelajaran, motivasi siswa dan pengajar, bagaimana belajar secara efektif dengan murid dari berbagai latar belakang, dan membuat pendidikan ini menjadi transparan dan lebih dekat dengan masyarakat.
Teknologi berperan untuk meningkatkan kemampuan belajar siswa. Dengan teknologi, siswa akan lebih mudah memperoleh materi, siswa mendapat materi pelajaran tanpa harus datang ke sekolah dan menunggu guru atau pengajar memberikan materi. Siswa dapat memperoleh materi yang terlebih dahulu dipaparkan di berbagai macam jejaring sosial dengan internet. Teknologi ini juga dapat membantu komunikasi antara siswa, orang tua dan guru. Orang tua dapat memantau anak-anaknya di sekolah. Guru atau pengajar dapat melaporkan kondisi dan proses belajar siswa. Orang tua dapat memberikan informasi kepada guru tentang perkembangan siswa di rumah.
Teknologi juga berperan untuk memfasilitasi siswa dalam belajar yang disebut e-learning. Sekarang, proses belajar mengajar tidak dengan cara guru memberi ceramah kepada siswa sementara siswa mendengarkan guru sambil membuka buku. Pengajaran dapat dilakukan dengan menampilkan slide-slide melalui infokus, OHP, proyektor, bahkan sekarang ada papan tulis yang dapat beroperasi seperti komputer touch screen.
Teknologi memberikan bermacam - macam dampak dalam ranah pendidikan ini. Dapat memberikan dampak positif, dan juga dapat memberikan dampak negatif. Dampak positif dari teknologi adalah seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Kemudian, teknologi juga memberikan dampak negatif seperti disalah gunakan oleh siswa. Saat kita membuka internet dengan tujuan positif, kemungkinan ada hal – hal yang ditawarkan oleh situs atau iklan – iklan yang tak layak dilihat oleh anak-anak. Kemudian, ada juga yang menyalah gunakan internet dengan cara memaikan permainan – permainan, dengan waktu yang tidak terkontrol, misalnya ia tidak menyelesaikan tugasnya karena bermain di jejaring sosial lewat internet. Bahkan, mungkin saja siswa menipu orang tuanya bahwa ia meminta ijin ke warung internet untuk mengerjakan tugas sementara kenyataannya ia melakukan hal – hal lain. Penggunaan internet yang terlalu bebas juga seperti menonton film porno juga menyalah gunakan teknologi dalam pendidikan. Untuk hal seperti ini, dibutuhkan pengawasan oleh orang tua di rumah. Orang tua harus mendampingi anaknya selama ia di luar sekolah.
Diluar dampak positif dan negatif ini, kita juga harus melihat bahwa teknologi ini membawa kita kepada hal – hal yang baik. Mengurangi penggunaan kertas, mengurangi penggunaan spidol, mempermudah dan mempercepat proses yang ada di sekolah baik itu `proses belajar mengajar, absensi, administrasi, pemeriksaan hasil ujian, dan seluruh sistem yang ada di sekolah. Sekolah dapat beroperasi 24 jam tanpa harus membuka selama 24 jam. Pemeliharaan fasilitas teknologi yang telah ada ini tentunya haruslah digalakkan. Bukan hanya sekolah yang memeliharanya, siswa juga harus ikut berperan memelihara fasilitas ini. Dengan demikian tekonologi ini dapat terus berkembang bahkan tercipta teknologi-teknologi yang lebih baik dan efisien untuk dunia pendidikan.

Masalahnya, belum semua sekolah di seluruh daerah di Indonesia mendapatkan teknologi yang baik ini. Bahkan masih ada daerah yang belum terjangkau pendidikan atau sekolah. Disini, peran pemerintah sangat dibutuhkan. Pemerintah seharusnya mengirimkan anggotanya untuk memeratakan pendidikan di seluruh Indonesia. Pemerataan pendidikan dan fasilitas teknologi yang tidak merata dan timpang di beberapa daerah membuat siswa dan orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah dan institusi yang mempunyai teknologi yang lebih baik tersebut. Ini yang menyebabkan tidak meratanya pendidikan di tanah air. Disini seharusnya psikologi berperan aktif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar