Rabu, 24 Juni 2015

Evaluasi Performa Andragogi Kelompok 3

“Cyberbullying”


Oleh:
Kelompok 3
Utary Monadevy             (13-095)
Giane Situmorang            (13-103)
Renita Napitupulu           (13-115)
Flora Purba                    (13-123)
Yunike Mariana              (13-137)


Bullying adalah fenomena yang kerap terjadi & tidak asing lagi di telinga kita. Ada beberapa jenis bullying. Salah satunya adalah cyberbullying.  Jenis bullying ini masih kurang common bagi orang Indonesia dan bahkan beberapa dari kita belum mengetahui seperti apa cyberbullying itu. 

Kurangnya pengetahuan mengenai cyberbullying berdampak pada terjadinya cyberbullying dengan intensitas yang cukup tinggi. Pada awal tahun 2015, muncul berbagai cercaan terhadap Haji Lulung melalui meme yang tersebar di jejaring sosial, mulai dari facebook, youtube, instagram, bahkan path. Haji Lulung menyatakan ketidaksenangannya atas 'lucu-lucuan' tentang dirinya yang beredar di dunia maya pada salah satu stasiun televisi Indonesia dalam suatu acara outdoor talk show. Selain Haji Lulung, Brigadir Dewi Sri Mulyani dengan kalimat "disitu kadang saya merasa sedih" juga menjadi bahan tertawaan masyarakat Indonesia. Ia menyatakan kekecewaannya terhadap gambar-gambar dan video yang diedit sedemikan rupa yang beredar di jejaring sosial melalui suatu acara talkshow di salah satu stasiun televisi Indonesia.

Cyberbullying bersifat subjektif. Walaupun demikian, kita dapat mempelajari, mengenali, dan peka terhadap hal ini. Pembelajaran dapat dilakukan dengan teknik proyektif. Pembelajaran dengan teknik proyektif dapat menjaga self-esteem seseorang. Melalui teknik proyektif, fasilitator menyajikan cerita lewat ilustrasi gambar dan video yang diakhiri dengan sesi diskusi. Pada sesi diskusi, peserta didik mengungkapkan perasaannya, tata nilai, keinginannya atau apa yg ingin dilakukan (insight) sesudah mendapatkan novel knowledge mengenai cyberbullying.

Teman-teman terdekat menjadi sasaran pembelajaran ini dengan harapan bahwa mereka selanjutnya akan menjadi agent of change. Harapan kecil yang kami inginkan pada keenam orang teman terdekat ini adalah dapat mencegah cyberbullying atas dirinya dan atas orang lain, juga dapat mengatasi masalah apabila suatu ketika ia menjadi korban cyberbullying. Harapan yang lebih besar adalah mereka bisa membagikan pengetahuan tersebut kepada orang-orang disekitarnya dan mampu mengontrol diri untuk tidak melakukan cyberbullying. Dampak dari pembelajaran yang mungkin akan dirasakan oleh peserta didik apabila ia pernah menjadi korban bully adalah bahwa she's not alone. Ada orang lain yang pernah menjadi korban bullying juga. Peserta didik ini dapat melihat bahwa ada orang-orang yang peduli terhadap korban cyberbullying, ada orang-orang yang berusaha mencegah cyberbullying. Hal ini mungkin dapat memberikan sedikit kelegaan untuknya dan mencegahnya untuk mem-bully orang lain karena beberapa korban bullying dinyatakan berpotensi balik melakukan bullying terhadap orang lain, membalaskan apa yang pernah ia rasakan.

Teman-teman terdekat diajak menjadi peserta didik tidak hanya berdasarkan kepraktisan tetapi juga atas kepedulian kelompok terhadap pengalaman yang kami dengar dari beberapa peserta didik dan beberapa anggota kelompok yang pernah menjadi korban bullying dan pelaku bullying. Waktu dan tempat pelaksanaan di Lantai II Gedung C Fakultas Psikologi dipilih berdasarkan hasil diskusi kelompok 3 dengan peserta didik karena pertimbangan cuaca dan udara yang cukup panas pada saat itu. Peserta didik menginginkan kenyamanan saat proses berlangsung, maka dari itu mereka memilih untuk duduk di lantai gedung dan beberapa kali jeda untuk merenggangkan badan dan urusan ke belakang. Kelompok menyediakan minuman teh dalam kemasan, masing-masing mendapat satu agar peserta tidak kehausan. Peralatan yang akhirnya kami pergunakan saat pelaksanaan adalah sebuah laptop dan dua kamera smart phone untuk merekam dokumentasi dari dua sisi, depan dan belakang peserta didik. 

Dari hasil diskusi di akhir sesi, seorang peserta didik yang merupakan korban bullying yang kemudian menjadi pelaku bullying menyatakan bahwa ia merasa kasihan pada Amanda Todd yang berjuang untuk menghapuskan cyberbullying terhadapnya dan kemudiaan ditemukan tewas di kamar apartemennya setelah beberapa kali percobaan bunuh diri. Ia mengatakan bahwa seharusnya teman-teman sekolah Amanda Todd berhenti melakukan cyberbullying, menghapus gambar tersebut dari media sosial, dan membantunya untuk bangkit setelah Amanda Todd menyatakan bahwa ia depresi. Peserta didik yang lain menyatakan bahwa kenapa orang-orang disekitar Amanda Todd itu tidak dapat membantu, tidak dapat mencegah Amanda Todd untuk bunuh diri lagi, atau membawanya ke psikiater atau psikolog untuk terapi atau diberikan penanganan. Seharusnya ada yang bisa yang bisa membantu dari sekian banyak orang disekitarnya, minimal sahabatnya sendiri atau keluarganya. Peserta didik yang lain juga ikut mengungkapkan bahwa pembelajaran ini bermanfaat bagi mereka yang sebelumnya tidak tahu bahwa 'lucu-culuan' ini termasuk cyberbullying, bagaimana perasaan mereka, menceritakan keadaan tokoh-tokoh yang ditayangkan dalam video, dan apa yang dapat mereka lakukan setelah ini seperti lebih aware apabila mengetahui adanya cyberbullying atau tanda-tanda terjadinya cyberbullying terhadap seseorang disekitarnya. Selanjutnya mereka dapat membantu teman-temannya atau keluarganya apabila menjadi korban cyberbullying. Salah satu peserta didik yang pernah menjadi korban cyberbullying menyatakan bahwa tokoh animasi tersebut akhirnya mengatasi masalahnya dengan bantuan keluarganya. Ia menyatakan bahwa seorang korban cyberbullying ternyata seharusnya menceritakan pada orang terdekatnya, misalnya abang atau sahabatnya.



Pembagian Tugas

a. Pra-Pelaksanaan
Perencanaan:  Seluruh an
Menyusun prosedur pelaksanaan:  Yunike, Flora, Utary
Mencari video:  Renita, Flora
Mencari gambar:  Utary

b. Pelaksanaan
Presenter:  Renita, Gianne, Yunike
Dokumentasi:  Flora, Yunike, Utary
Operator laptop :   Utary
(sambil menjelaskan isi video)

c. Presentasi
Video Editor:  Yunike
Ice Breaker:  Renita, Yunike, Gianne
Presenter: Utary, Gianne
Operator laptop: Flora
(sambil menjelaskan video)
Menanggapi Audience:  Gianne, Renita, Flora, Utary, Yunike



Pertanyaan & Tanggapan dari Audience Kelas Andragogi
  • Rini  (13-066)
P :  Kalau dengan stand up comedy, biasanya kan komiknya suka menghina  atau mentertawakan orang juga. Di slide apabila sebagai pendidik, lalu gimana caranya kalo mau ngasih tau ke sepupu untuk mencegah cyberbullying?
T : Kita meskipun bukan sebagai pendidik, kita juga harus menjelaskan perbedaaan antara humor dan sarcasm. Stand up comedy salah satunya. Misalnya ada saudara kita yang merasa dibully dan susah mengutarakan perasaannya, bisa memakai cara seperti stand up comedy (mengutarakan pendapat tanpa membuat orang lain tersakiti).
  • M. Saif  (12-027)
P :  Gimana kita tahu dia ngerasa dibully/ tidak?
T : Dari video yang kami tampilkan, disitu di tampilkan bahwa orang yg merasa di bully akan lebih banyak terlihat sendiri daripada berkumpul dengan orang lain dan juga dia akan terlihat murung atau sedih. 

  • Agita  (13-044)
P :  Kenapa videonya kebanyakan lebih tentang respon audience daripada untuk audience di kelas?
T :  Karena itu pendekatan teknik proyeketif  jadi kami menampilkan video kepada audience tentang cyberbully yang menjadi trending topic di kalangan anak muda yang aktif menggunakan social media, dengan menampilkan video kami ingin membuat perubahan kepada teman audience yang menjadi pelaku cyberbully atau yang menjadi korban cyberbully. Kami berhdapa audience menjadi agent of agency untuk mengubah perilaku cyberbully yang dapat menyakiti orang lain.

  • Indri  (12-011)
P : Gimana kalau teman kita gak punya power untuk mengatakan kalo mereka itu tersakiti karena cyberbullying?
T : Kita sebagai orang yang sudah mengetahui ciri-cirinya atau tanda-tandanya sebaiknya menanyakan secara langsung dan membantunya seperti tips-tips yang kami bagikan tadi. Dan kita juga bisa membagikan apa yang kita ketahui ini pada orang lain agar orang ini juga dapat mengetahui tanda-tanda terjadinya cyberbullying disekitar mereka dan mereka dapat membantu orang lain lagi.

  • Livi  (12-002)
P : Konsepnya sangat bagus. Videonya kurang lebar dan suara spekernya kurang besar. Materinya bagus, sesuai dengan mahasiswa yang menggunakan internet. Gimana kalo Dijah Yellow & Syahrini? Dia kan senang-senang aja, malah mencari popularitas dari situ. Gimana sebenarnya konsep cyberbullying itu?
T : Cyberbullying sebenarnya tergantung persepsi subjek. Jika subjek tidak merasa dihina/dibully di sosmed maka itu bukan cyberbullying. Contohnya seperti Dijah Yellow dan Syahrini. Mereka memang tidak menganggap komen-komen orang di instagram mereka sebagai hinaan. Mereka malah memanfaatkan itu untuk membuat mereka tenar.

  • Firman  (13-088)
Saran :  Konsepnya bagus, seharusnya dilaksanakan di kelas besar saja karena informasinya juga penting untuk kita semua.


NB: 
P=PERTANYAAN/PERNYATAAN
T=TANGGAPAN



Dokumentasi











CYBERBULLYING
I have been being an agent of change
How about YOU?
:)

Rabu, 25 Maret 2015

Revisi: KONSEP PERFORMA PEMBELAJARAN METODE PROYEKTIF

 “Cyberbullying”


Oleh:
Kelompok 3
Utary Monadevy               (13-095)
Giane Situmorang            (13-103)
Renita Napitupulu           (13-115)
Flora Purba                     (13-123)
Yunike Mariana               (13-137)

Teknik Proyektif

Teknik proyektif adalah teknik pembelajaran yang menggambarkan suatu masalah melalui cerita, cerita bergambar, sandiwara, dengan berbagai media untuk menggali dimensi permasalahan-permasalahan tersembunyi yang ada pada peserta didik.  Informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dapat diperoleh melalui diskusi, wawancara, atau konsultasi dengan para ahli. Peserta didik berperan di akhir cerita. Mereka mendiskusikan perilaku dan motivasi tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Dengan mendiskusikannya, peserta didik dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya, tata nilai, dan sebagainya.


Topik: Cyberbullying

Cyberbullying adalah kekerasan dalam bentuk teks atau pesan instan yang bersifat kasar dan menghina seseorang di media sosial. Menurut wikipedia, cyberbullying adalah penggunaan teknologi informasi untuk menyakiti orang lain secara berulang-ulang dengan sengaja. Cyberbullying itu dapat dibatasi dengan memposting rumor atau gosip tentang seseorang di internet dan mengandung sifat kebencian dalam pemikiran orang yang melakukan cyberbullying; atau juga dapat diperluas dengan mengidentifikasi korban secara personal dan mempublikasikan material sesorang dengan tujuan menfitnah dan mempermalukan orang tersebut.


                Cyberbullying dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi  informasi  dan komunikasi untuk mendukung hostile behavior yang dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang oleh individu atau kelompok untuk menyakiti orang lain. Menggunakan internet dan mobile technology seperti web page dan grup diskusi atau SMS dengan tujuan menyakiti orang lain. Menyakiti seseorang dalam cyberbullying ada dua cara, yaitu : cyberstalking atau cyberharassment yang dilakukan orang dewasa terhadap orang dewasa. Cyberstalker bertindak di forum publik, media sosial , atau situs-situs informasi online dan bertujuan untuk mengancam  penghasilan, pekerjaan, reputasi, atau keamanan korban. Beberapa pelaku dapat mempublikasikan foto korban atau foto korban yang sudah di edit beserta penjelasan gambar yang menfitnah atau memasang wajah korban dengan tampilan tubuh yang telanjang.  Cyberbullies dapat menunjukkan data pribadi korban (nama asli, alamat rumah atau tempat kerja/ sekolah) di website atau forum atau bisa menggunakan peniruan, menciptakan akun palsu, tempat mengutarakan komentar-komentar atau sikap sebagai   target mereka untuk tujuan mempublikasikan material dalam nama mereka yang memfitnah, mencemarkan nama baiknya, atau mempermalukan mereka. Pelaku seringkali tidak menyebutkan nama mereka atau anonim sehingga seringkali pelaku tidak diketahui dan tidak dapat di proses dengan hukum. Cyberbullying dapat terjadi setiap waktu.


Why?

Topik ini diangkat karena akhir-akhir ini marak terjadi cyberbullying di sekitar kita. Tujuannya adalah  membuat peserta didik sadar bahwa cyberbullying merupakan suatu hal yang melanggar norma sosial dan norma hukum yaitu UU ITE Pasal 27 ayat 3 yang berbunyi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ menstransmisikan dan/ membuat dapat diaksesnya informasi dan/ dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/ pencemaran nama baik dan Pasal-pasal KUHP yang mengatur tentang cyberbullying yang tercantum dalam Bab XVI mengenai penghinaan, khususnya Pasal 310 ayat (1) dan (2). Pembelajaran ini ditujukan pada mahasiswa di Fakultas Psikologi USU. Peserta didik diharapkan lebih memahami dampak negatif dari cyberbullying. Dampak psikologis dari cyberbullying adalah:

1.       Tidak bersemangat melakukan kegiatan yang tadinya disukai

2.       Enggan berangkat kerja atau atau sering menjadi membolos

3.       Susah tidur atau mimpi buruk

4.       Mudah merasa takut

5.       Tidak percaya diri

6.       Muncul keinginan membully sebagai bentuk balas dendam

7.       Social phobia

8.   Bullyside: bunuh diri karena tertekan secara mental.


Media/Sarana belajar: alat pandang dengar  (Video dari youtube, gambar dari sosial media)


Peserta                        : 5 orang mahasiswi Psikologi USU 

Tanggal pelaksaan        : Selasa, 30 Maret 2015

Waktu pelaksanaan      : 08.00-selesai

Tempat                        : Taman USU

Durasi                          : maks. 1 jam

Biaya yg diperlukan     : Rp25.000 (minum utk 5 orang) 


Prosedur

Model rancangan belajar adalah model peran dengan jenis satuan kegiatan pertemuan umum. Prosedur pembelajaran:

·  Pembukaan

·  Cerita mengenai fenomena bullying yang terjadi akhir-akhir ini

· Menampilkan gambar-gambar/ capture dari instagram dan media sosial lainnya

·  Menampilkan video dan film pendek tentang cyberbullying 

· Diskusi. Peserta diberi kesempatan memberi pendapat atau tanggapan dari gambar-gambar dan video tersebut. Kemudian menunjukkan gambar tentang fakta-fakta cyberbullying yang terjadi di dunia.


Sumber: 

http://en.m.wikipedia.org/wiki/Cyberbullying

http://m.kompasiana.com/post/read/527409/3/aspek-hukum-dan-pencegahan-cyber-bullying.html 

http://www.infopsikologi.com/bullying-itu-kejam-ketahui-dampaknya-sekarang/

Arif, Zainudin. 2012. Andragogi. Bandung: Angkasa.

Rabu, 18 Maret 2015

KONSEP PERFORMA PEMBELAJARAN METODE PROYEKTIF

 “Cyberbullying”


Oleh:
Kelompok 3
Utary Monadevy               (13-095)
Giane Situmorang            (13-103)
Renita Napitupulu           (13-115)
Flora Purba                     (13-123)
Yunike Mariana               (13-137)


Teknik Proyektif

Teknik proyektif adalah teknik pembelajaran yang menggambarkan suatu masalah melalui cerita, cerita bergambar, sandiwara, dengan berbagai media untuk menggali dimensi permasalahan-permasalahan tersembunyi yang ada pada peserta didik.  Informasi yang dibutuhkan oleh peserta didik dapat diperoleh melalui diskusi, wawancara, atau konsultasi dengan para ahli. Peserta didik berperan di akhir cerita. Mereka mendiskusikan perilaku dan motivasi tokoh-tokoh dalam cerita tersebut. Dengan mendiskusikannya, peserta didik dapat mengungkapkan perasaan-perasaannya, tata nilai, dan sebagainya.


Topik: Cyberbullying

Cyberbullying adalah kekerasan dalam bentuk teks atau pesan instan yang bersifat kasar dan menghina seseorang di media sosial. Menurut wikipedia, cyberbullying adalah penggunaan teknologi informasi untuk menyakiti orang lain secara berulang-ulang dengan sengaja. Cyberbullying itu dapat dibatasi dengan memposting rumor atau gosip tentang seseorang di internet dan mengandung sifat kebencian dalam pemikiran orang yang melakukan cyberbullying; atau juga dapat diperluas dengan mengidentifikasi korban secara personal dan mempublikasikan material sesorang dengan tujuan menfitnah dan mempermalukan orang tersebut.


                Cyberbullying dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi  informasi  dan komunikasi untuk mendukung hostile behavior yang dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang oleh individu atau kelompok untuk menyakiti orang lain. Menggunakan internet dan mobile technology seperti web page dan grup diskusi atau SMS dengan tujuan menyakiti orang lain. Menyakiti seseorang dalam cyberbullying ada dua cara, yaitu : cyberstalking atau cyberharassment yang dilakukan orang dewasa terhadap orang dewasa. Cyberstalker bertindak di forum publik, media sosial , atau situs-situs informasi online dan bertujuan untuk mengancam  penghasilan, pekerjaan, reputasi, atau keamanan korban. Beberapa pelaku dapat mempublikasikan foto korban atau foto korban yang sudah di edit beserta penjelasan gambar yang menfitnah atau memasang wajah korban dengan tampilan tubuh yang telanjang.  Cyberbullies dapat menunjukkan data pribadi korban (nama asli, alamat rumah atau tempat kerja/ sekolah) di website atau forum atau bisa menggunakan peniruan, menciptakan akun palsu, tempat mengutarakan komentar-komentar atau sikap sebagai   target mereka untuk tujuan mempublikasikan material dalam nama mereka yang memfitnah, mencemarkan nama baiknya, atau mempermalukan mereka. Pelaku seringkali tidak menyebutkan nama mereka atau anonim sehingga seringkali pelaku tidak diketahui dan tidak dapat di proses dengan hukum. Cyberbullying dapat terjadi setiap waktu.


Why?

Topik ini diangkat karena akhir-akhir ini marak terjadi cyberbullying di sekitar kita. Tujuannya adalah  membuat peserta didik sadar bahwa cyberbullying merupakan suatu hal yang melanggar norma sosial dan norma hukum yaitu UU ITE Pasal 27 ayat 3 yang berbunyi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/ menstransmisikan dan/ membuat dapat diaksesnya informasi dan/ dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/ pencemaran nama baik dan Pasal-pasal KUHP yang mengatur tentang cyberbullying yang tercantum dalam Bab XVI mengenai penghinaan, khususnya Pasal 310 ayat (1) dan (2). Pembelajaran ini ditujukan pada mahasiswa di Fakultas Psikologi USU. Peserta didik diharapkan lebih memahami dampak negatif dari cyberbullying. Dampak psikologis dari cyberbullying adalah:

1.       Tidak bersemangat melakukan kegiatan yang tadinya disukai

2.       Enggan berangkat kerja atau atau sering menjadi membolos

3.       Susah tidur atau mimpi buruk

4.       Mudah merasa takut

5.       Tidak percaya diri

6.       Muncul keinginan membully sebagai bentuk balas dendam

7.       Social phobia

8.       Bullyside: bunuh diri karena tertekan secara mental.


Media/Sarana belajar: alat pandang dengar  (Video dari youtube, gambar dari sosial media)


Prosedur

Model rancangan belajar adalah model peran dengan jenis satuan kegiatan pertemuan umum. Prosedur pembelajaran:

·         Pembukaan

·         Cerita

·         Menampilkan gambar-gambar

·         Menampilkan video

·         Diskusi.


Sumber: 

http://en.m.wikipedia.org/wiki/Cyberbullying

http://m.kompasiana.com/post/read/527409/3/aspek-hukum-dan-pencegahan-cyber-bullying.html 

http://www.infopsikologi.com/bullying-itu-kejam-ketahui-dampaknya-sekarang/

Arif, Zainudin. 2012. Andragogi. Bandung: Angkasa.

Senin, 12 Januari 2015

Evaluasi Performa Kreativitas

“Sepatu Lama Bersemi Kembali (SLBK)”






Oleh kelompok 2:

Mata kuliah kreativitas merupakan salah satu mata kuliah pilihan di fakultas Psikologi USU. Mata kuliah ini hanya di ampuh oleh seorang dosen fakultas Psikologi yakni ibu Fillia Dina Anggareini. Mata kuliah ini berbeda dari  mata kuliah yang. Di sini metode pembelajaran yang digunakan lebih  unik dari biasanya. Sama halnya dengan nama mata kuliah ini, metode yang digunakan dirancang menarik sedemikian mungkin agar esensi dari kreatifitas timbul didalamnya. Mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini, juga dituntut untuk dapat menggali potensi yang ada di setiap masing individu untuk menampilkan hasil yang terbaik sebagai wujud dari kreatifitas tersebut. Bukan hanya menampilkan saja, namun mahasiswa yang terlibat di dalam perkuliahan ini diharapkan mampu mengembangkan setiap potensi, bakat yang sudah didalam dirinya.
Adapun salah satu tugas yang harus dipenuhi dalam mata kuliah ini adalah performa kreatifitas yang akan di tampilkan secara berkelompok. Maksud dari performa kreatifitas ini adalah setiap kelompok wajib membuat satu ide kreatifitas yang original yang akan ditampilkan di depan kelas. Namun sebelum ditampilkan, setiap kelompok wajib membuat atau merancang suatu konsep performa kreatifitas mereka yang dipost di blog masing-masing.. Dan setelah perform di depan kelas, setiap kelompok wajib mengevaluasi performa mereka. Evaluasi inilah yang akan kami bahas pada postingan blog ini. Terimakasih atas semua masukkan yang kami terima dan selamat membaca postingan ini.
A.    Teori yang Berkaitan dengan Performa Kreatifitas
Teori tentang proses kreatif dikaitkan dengan performa yang akan ditampilkan kelompok
Teori Wallas
1.      Persiapan yaitu pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berfikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang dan sebagainya. Pertama, kami memikirkan apa yang akan kami tunjukkan (perform). Kami mencari ide di internet, melihat gambar-gambar hasil kreativitas orang lain, dan juga menanyakan pada senior tentang performa yang mereka tampilkan tahun lalu.
2.      Inkubasi yaitu tahap dimana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar tetapi “mengeraminya” dalam alam pra sadar. Tahap ini penting dalam menimbulkan inspirasi. Kami sepakat untuk memikirkan ide masing-masing tanpa mengadakan diskusi kelompok selama beberapa waktu.
3.      Iluminasi yaitu tahap timbulnya "insight" atau "Aha-erlebnis", saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru, beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru. Kemudian muncul ide dari beberapa anggota kelompok. Muncul ide membuat video menceritakan gifted children dengan stop motion, ide membuat sesuatu dari kulit telur, melukis dengan tutup botol air mineral, dan ada juga ide recycle barang bekas.Aha! Akhirnya kami memutuskan membuat sepatu bekas menjadi kembali berguna & chic!. karena, dari ide-ide yang kami muncul  sebelumnya ide ini yang paling mudah untuk kami kerjakan dan sederhana.
4.      Verifikasi yaitu tahap dimana ini ide atau kreasi baru diuji terhadap realitas. Untuk membuatnya menjadi cantik kembali dibutuhkan hal-hal yang benar-benar menutupi permukaan sepatu karena keadaan permukaan sepatu sudah tidak bagus dan tidak menarik.
Teori Pemecahan Masalah Menurut Shallcross
Teknik pemecahan masalah secara kreatif yang dikemukakan oleh Shallcross (1985) meliputi lima tahap, yaitu:
1.      Orientasi. Pada tahap ini, masalah dirumuskan atau mulai menentukan tujuan. Masalah dirumuskan dengan bagaimana kami harus menyelesaikan tugas performa yang diberikan dan menetukan apa yang harus kami buat.
2.      Persiapan. Pada tahap persiapan, kami menghimpun semua fakta yang sudah diketahui mengenai masalah dan mulai mengumpulkan data. Untuk menyelesaikan tugas performa kami bertanya kepada senior yang sudah pernah menagmbil mata kuliah kreativitas dan mencari berbagai kreativitas di internet.
3.      Penggagasan. Pada tahap penggagasan, kami mulai menerapkan cara berpikir divergen untuk menghasilkan gagasan sementara pemecahan masalah. Pada tahap ini, kami mulai mememikirkan konsep apa yang akan kami tampil dalam performa. Ada beberapa ide yaitumembuat video menceritakan gifted children dengan stop motion, ide membuat sesuatu dari kulit telur, melukis dengan tutup botol air mineral, recycle barang bekas, dan membuat sepatu bekas menjadi kembali berguna
4.      Penilaian. Pada tahap penilaian, kami menerapkan cara berpikir konvergen, yaitu menyeleksigagasan yang paling baik untuk dilaksanakan, dengan mempertimbangkan kelayakan dari setiap gagasan, yaitu dengan membuat matriks.
Matriks gagasan dan kriteria penilaian gagasan
Ketentuan penilaian:
5 = baik sekali             3 = cukup baik                                    1 = sangat kurang
4 = baik                       2 = kurang baik
IDE
ORIGINALITAS
WAKTU PEMBUATAN x 3
BIAYA
KEMAMPUAN
TOTAL SKOR
Video Stop Motio
3
2
5
1
15
Sesuatu dari kulit telur
3
3
3
2
17
Melukis dengan tutup botol air mineral
3
2
2
2
13
recycle barang bekas
2
1
4
2
11
Sepatu bekas menjadi berguna kembali
4
3
5
4
22

            Dari tabel tersebut, yang paling tinggi adalah sepatu bekas menjadi berguna kembali.
Pelaksanaan atau implementasiTahap pelaksanaan atau implementas merupakan tahap terakhir dalam proses pemecahan masalah secara kreatiftahap dimana kami membuat sepatu bekas menjadi berguna kembali.
A.    Konsep Performa Kreatifitas
Awalnya kami belum mendapatkan ide yang cocok untuk kami jadikan  ke dalam tugas performa kreatifitas kami. kemudian kami berinisiatif untuk searching ke internet, melihat karya-karya kreatifitas orang lain yang mungkin akan dapat menjadi inspirasi kami dalam menyusun sebuah ide atau konsep untuk kreatifitas performa kreatifitas kami. Bukan  hanya itu saja, kami pun juga menanyakan ke beberapa senior yang sudah pernah mengambil kelas kreatifitas ini. Kemudian dari semua yang telah kami lakukan, maka muncullah beberapa ide yang menurut kami layak untuk diperformkan didepan kelas. Namun kami menyadari, bahwa semua ide yang muncul tersebut tidak mungkin kami masukkan semua ke dalam performa kreatifitas. Maka, setelah kami berdiskusi, kami pun memutuskan membuat sebuah hiasan sepatu bekas yang sudah tidak layak untuk dipakai lagi agar bisa digunakan kembali sehari-hari.
Sepatu bekas ini kami beri nama  “SLBK (Sepatu Lama Bersemi Kembali)”. Alasan kami mengambil tema ini adalah mengingat sepatu bekas yang sudah tidak dipakai lagi yang banyak bertumpuk di rumah. Selain itu, alasan kami yang lain adalah karena kami merasa hal ini cukup mudah sehingga semua anggota kelompok mampu membuatnya.
B.     Alat dan Bahan
Bahan:
ü  Sepatu bekas
ü   Lem
ü   Kain gosok
ü  Ayaman tikar
ü  Kain goni
ü  Bunga kepompong (sebagai hiasan)
Alat :
ü  Gunting
ü   Pena (spidol)
ü   Camera
ü   Movie Maker
C.    Langkah-langkah pembuatan
1.      Sediakan alat dan bahan
2.      Bersihkan sepatu
3.      Lem bagian sepatu yang terbuka
4.      Tempelkan kain gosok dengan kain tikar
5.      Gambar dan gunting pola untuk sisi depan sepatu
6.      Beri lem pada sisi depan sepatu.
7.      Tempelkan pola yang sudah digunting pada sepatu
8.      Rapihkan bagian yang sudah ditempel
9.      Gambar pola pada kain untuk sisi kanan dan kiri sepatu
10.  Gunting, kemudian lapiskan kain gosok pada sisi sepatu
11.  Gambar dan gunting pola untuk hiasan di sisi sepatu
12.  Tempelkan pola tersebut pada sisi sepatu
13.  Tambahkan bunga kepompong di bagian depan. Finish J J
E.     Kendala yang Dihadapi
1.      Waktu Pembuatan
Kami menentukan waktu pembuatannya dikampus dan berkumpul pada jam 10.00 WIB. Ketika semua anggota kelompok sudah berkumpul kami mulai mendiskusikan model seperti apa yang akan kami buat pada sepatu dan bahan-bahan apa saja yang akan digunakan. Kami tidak memiliki ide lagi untuk model sepatunya karena kami sudah pernah menampilkan performa menghias sepatu bekas, banyak kekurangan dan pada saat itu adalah penampilan performa pertama sehingga kami diperbolehkan lagi untuk mengulamg performa kami. Pada hari pertama pembuatan kami masih bingung dengan model yang akan digunakan dan kami berfikir tidak mungkin kami menampilkan video dengan model sepatu yang samadan akhirnya kami memutuskan  untuk pulang dan berkumpul lagi besoknya dengan masing-masing anggota kelompok sudah memiliki ide model yang akan di buat. Setelah modelnya sudah ditentukan, salah seorang anggota kelompok membeli bahan yang akan digunakan dan beberapa bahan yang digunakan adalah bahan-bahan yang gak di pake ada di rumah yaitu kain gosok. Kami mengerjakannya sekitar 4 hari dalam waktu dua minggu mulai dari menghias sepatu sampai proses editing video. Dalam sehari kami mengerjakannya sekitar 4 jam.
2.      Proses Pembuatan
Dalam proses pembuatan kendala yang kami hadapi adalah saat menempel pola-pola yang kami buat pada sepatu. Kami membutuhkan kesabaran untuk menuggu lemnya kering baru bisa melanjutkan hiasan selanjutnya paad sepatu. Pada saat mengggunting anyaman tikar juga membutuhkan kesabaran karena anyamannya mudah rusak sehingga mengurangi kerapiannya.
3.      Performa
Performa pertama kami banyak mengalami kendala karena yang semua kelompok berasumsi bahwa yang tampil pertama adalah kelompok satu dan dua. Ketika kelas sudah mulai ternyata listrik dalam ruangan tidak hidup dan kami memang membutuhkan listrik untuk menampilkan video. Tetapi karena kelompok satu tidak memiliki persiapan dan beberapa anggota kelompok belum datang dan akhirnya kami yang duluan tampil setelah listrik diruangan hidup. Melihat hasil performa kami yang kurang memuaskan dan banyak kekurangan dan hari itu hari pertama penampilan jadi kami diperbolehkan mengulangi performa kami kembali. Performa kedua kami tidak banyak mengalami kendala hanya proyektor yang ada dalam ruangan saja sedikit bermasalah.
F.     Kritik dan saran
1.      Etika Manda Sari
Menurut kak  Manda apa pertimbangan kelompok kenapa sepatu dimodifikasi kembali bukannya biayanya semakin mahal? Dan berfikir bahwa sepatu itu dimodifiaksi dalam fungsi lain bukan sebagai sepatu lagi.
2.      Ilmi Khoir Purba
Menurut Ilmi sepatu sudah bagus tetapi kerapain dari pola-pola yang digunakan pada sepatu sangat kurang.
3.      Ibu Filia Dina Anggaraeni
Pada saat performa pertama menurut ibu Dina apa yang kami tampilakan dalam performa tidak sesuai dengan apa yang ada dalam blog. Dalam blog kami tidak membuat performa kami sebenarnya seperti apa dan alasan kami kenapa akhirnya membuat sepatu bekas dapat digunakan lagi sehingga orang-orang yang membaca blog kami tidak akan tahu apa sebenarnya yang akan kami tampilkan. Dalam blog kami juga tidak menampilkan cara-cara menghias sepatu bekas  itu.
G.       Pembagian Tugas
Praproduksi:
-           Pembuatan Konsep = Seluruh Anggota kelompok 2
-          Pembelian Bahan    = Utary MonadevyNurul Nia Aqsari
-          Penyediaan Alat     = Utary Monadevy, Nurul Nia Aqsari, Delilah Wahyuni
Produksi:
-          Pembuatan Produk  = Seluruh anggota kelompok 2
-          Dokumentasi          = Seluruh anggota kelompok 2
-          Presentasi Teori      = Delila wahyuni, Jerni Hati, Nurul Nia Aqsari
-          Presentasi Proses Pembuatan = Utary Monadevy
Pasca Produksi :
-          Pembuatan Laporan Evaluasi = Seluruh anggota kelompok 2
Movie by: seluruh anggota kelompok